Dulu, rasa penyesalan dan dosa selalu datang menghantui. Cinta ini memang datang tak disengaja, tak pernah kukira, sehingga aku hanya bermain-main didalamnya. Ketika kukatakan rindu, sebenarnya aku tak pernah merindu. Ketika kukatakan sayang, sebenarnya aku menyayangi yang lain. Ketika kumenatap matanya, sebenarnya aku memikirkan yang lain. Aku bersamanya bukanlah kehendakku, bukan inginku dan bukan pula kebahagiaanku. Terkadang aku sadar, aku sudah bermain terlalu dalam. Aku menyakitinya, aku mengkhianatinya. Sebenarnya aku ingin lari dari permainan ini, tapi apa alasannya. Aku tidak mungkin untuk mengatakan bahwa aku hanya bermain dan tidak pernah menganggap ini serius. Hatinya pasti akan terluka, mungkin dia akan membenciku, selamanya.
Aku mencoba untuk bersabar, ini semua memang salahku. Kisah ini dimulai dengan salah. Kisah ini dimulai dengan permainan yang tiada akhir. Hingga pada akhirnya aku sudah tak tahan untuk mengatakan ini. "Aku benar-benar tidak pernah mencintaimu." Kata-kata itu terlontar keras dari mulutku, aku tahu dia akan terluka. Aku memang bodoh dan aku memang bodoh. Seharusnya aku tidak mengatakn itu padanya hingga membuatnya terluka dan sakit hati. Tapi, disisi lain, bila aku tak mengatakannya, permainan ini akan mencapai level tertinggi, aku tak bisa melakukannya. Aku khilaf, maaf.
Tapi apa yang terjadi, tak sedikitpun terpancar kebencian yang terlihat dari hatinya. Dia menganggap ini semua serius. Dia mencintaiku tanpa tanda tanya. Apa adanya dan tak menuntut apapun. Aku baru sadar, aku terlalu jahat padanya. Aku tak layak memilikinya. Tapi dia selalu meyakinkanku jika semuanya baik-baik saja. Dia selalu menerimaku dan memaafkanku. Aku malu pada diriku, aku malu sungguh malu. Dia selalu bercerita padaku tentang cinta yang sebenarnya. Aku menangis, aku selalu menyesal dan aku selalu teringat tentang permainan itu.
Dia adalah super hero-ku. Dia selalu ada disaat aku membutuhkan pundaknya. Walaupun aku masih merasa bersalah, tapi rasa itu selalu ia tepis dengan senyuman indahnya. Aku belajar mencintainya, walaupun banyak godaan, aku tetap belajar mencintainya. Dengan segala kekurangan dan kelemahanku, kini aku mulai menyayanginya. Aku bisa menerimanya, seperti dia menerimaku. Walaupun itu sulit, sangat sulit. Tapi aku tak mau jatuh dilubang yang sama, aku tak mau kehilangannya dan mengecewakannya untuk yang kesekian kalinya. Kini aku hanya bisa mengikuti waktu dan aku hanya bisa bertanya, sampai mana aku bisa bertahan denganmu, Arreza.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar